Monday, September 30, 2013

Japan: 1st Impression

Tepat pada hari ulang tahun saya, 11 September 2013, saya menyambut mimpi yang menjadi kenyataan. Japan (one of my bukcket lists): here I come!

Saya memasuki Jepang melalui Bandara Internasional Narita. Seperti yang saya ketahui, di sini serba sendiri, tidak ada tuh porter yang mendekat untuk "membantu" membawakan barang. Everything is DIY.

Karena tujuan saya dan rombongan adalah adalah Kyoto, dari sana, kami naik kereta express menuju stasiun Shinagawa, dari sini untuk pertama
kalinya, semua mencoba the bullet train, Shinkansen. Mau tahu rasanya? BIASA AJA. Kereta yang katanya super cepat itu, ternyata biasa aja kalo dinaikin. Mungkin, ini karena dibayarin, coba kalo bayar sendiri... Kami menuju Stasiun Kyoto, yang ternyata berdekatan dengan Kyoto Tower.

Kalau sudah di stasiun ini, gampang ke mana-mana karena banyak bis, kereta, dan taksi. Saya dan teman satu apato menggunkan taksi menuju tempat tinggal kami di daerah Kinugasa. Supirnya kebanyakan sudah tua-tua, tapi telaten dan mau bantu angkat-angkat barang.

express train
shinkansen
dalam shinkansen
tiket express train dan shinkansen
stasiun kyoto
stasiun kyoto
Kesan yang saya dapatkan dari bandara sampai stasiun adalah baik. Beberapa petugas memasang tampang ramah tapi cekatan. Dandanan sebagian anak mudanya memang terkesan 'aneh' dengan rok mini dan stocking-nya, dan pekerja pria umumnya berpakaian standar, atasan putih - bawahan gelap. Yang menarik adalah kebanyakan tas mereka bukan ransel, tapi semacam tas sandang atau totebag. Selain itu, huruf-huruf kanji telah diterjemahkan ke dalam huruf-huruf latin, tidak bikin bingung.

Thursday, August 8, 2013

Naik Gunung dan Nyelam Bebas

Dari semua icon gunung di Indonesia, Krakatau adalah salah satu yang ingin saya daki. Kesempatan itu datang bersamaan dengan open water (ow) bareng anak-anak Bandung Freediving (BFD). Hari itu juga adalah hari terakhir ujian, saat yang tepat buat refreshing.

Kita berangkat dari terminal Leuwi Panjang pada malam hari dan subuh sampai di pelabuhan Bakaheuni. Dari sini kita naik angkot carteran sekitar 1 jam ke Dermaga Canti untuk naik perahu (nelayan) ke Pulau Sibeusi, tempat kita bermalam. Berhubung ini juga dalam rangka ow, kita langsung snorkeling dan freediving di 2 tempat berbeda.

Kita baru menuju penginapan ketika waktunya makan siang. Tapi setelah itu kita kembali snorkeling dan freediving di 2 tempat berbeda.

Malamnya kita makan malam dengan ikan bakar yang sudah disiapkan beserta lauk pauk yang lain, tidak ada acara khusus setelahnya, kecuali kalau mau bikin sendiri. Sebenarnya perjalanan ini dikomandoi oleh seorang teman yang punya travel agent, tapi karena dia juga anggota BFD, maka kita juga ikutan dengan sistem sharing cost. Jadi ada 2 perahu, 1 berisi peserta tour, 1 nya lagi BFD. 1 perahu bisa untuk sekitar 30 orang. Dengar-dengar sih, sewanya Rp3,5 juta/2 hari.

Buat saya yang tidak pandai berenang, dan hanya pernah sekali snorkeling denganperalatan lengkap, kesempatan itu sangatlah berharga. Saya hanya butuh fin untuk bertahan di air dan nafas untuk bisa mendekati karang dan ikan-ikan centil yang berseliweran di bawah saya.

Subuhnya kita bangun menuju Rakata, anak gunung Krakatau. Rencana sih, menyaksikan sunrise, apa daya, rasa kantuk dan 1 perahu yang rusak membuat kami hanya menyaksikan sunrise dalam perjalanan dari atas perahu. Buat saya pribadi, sunrise tidaklah terlalu istimewa.

Medannya tidaklah terlalu berat, tapi tanjakan yang berupa pasir sangatlah menguras tenaga. Selain itu, kita hanya bisa mendekati rakata, bukan menginjak puncaknya yang masih aktif dan sombong mengeluarkan asapnya. Tapi, kelelahan itu terbayar dengan pemandangan yang terbentang. Makanya, jangan lupa bawa air minum kalau ke sini.

Turun dari sini kita lanjut snorkeling dan freediving lagi di spot yang namanya lavaflow, katanya sih, itu terbentuk dari letusan gunung krakatau. Dan sumpah pemandangan bawah lautnya indah dengan koral-koral besarnya.

Hanya sekitar 1 jam kami di sini, sebelum ke spot terakhir, lagoon cabe. Jujur, spot terakhir tidak terlalu bagus, karena arusnya sedang tidak bersahabat, dan keruh, kecuali saya cukup berani ke tengah.


BFD susah banget disuruh segera naik perahu :)

Tuesday, August 6, 2013

Rafting di Citarik

Sejak tahu informasi mengenai kegiatan yang bernama arung jeram, saya langsung ingin mencobanya, tapi baru pada Desember 2012 hal itu terwujud. Setelah mencari-cari teman yang ingin berarung jeram, akhirnya bertemu dengan ajakan rafting di Citarik lewat backpackerindonesia. (oleh karena sudah lumayan lama, saya jadi lupa nama-nama tempat yang sempat kami singgahi).

Setelah, kontak-kontakan lewat email, Whats App serta sms, yang O.K hanya bertiga, perempuan semua. Hanya saya sendiri orang asing, karena kedua teman baru saya itu adalah rekan kerja di kantor yang sama.

Melihat waktu dan tempat, kami putuskan untuk manambah paket camping semalam, dengan segala fasilitasnya. Biar gampang dan murah, kami beli voucher lewat livingsocial Indonesia. Tapi karena rencana menginapnya belakangan, kami harus menambah dengan harga normal.

Kita yang semuanya tinggal di Bandung, pergi ke Sukabumi pakai bus MGI, saya berdua naik dari terminal Leuwi Panjang, dan yang satu tunggu di Padalarang. Walaupun akhirnya kami bertiga tidak satu bus karena gagal komunikasi, kami bertemu di terminal bus Sukabumi.

Setelah makan siang di dekat terminal, kami naik elf Rp4000 ke terminal angkot di sebuah pasar. Dari sini kami naik angkot sampai terminal angkot lagi. Perjalananya lumayan lama, kemarin ongkosnya Rp4000. Nantinya ada ojek yang akan mengantarkan ke lokasi Arus Liar. Berdasarkan pengalaman, sangat disarankan naik ojek karena tempatnya lumayan jauh, Rp10.000/ojek dan tidak ada angkutan lain. Begitu pun pulangnya.

Setelah check in, kami diantar menuju 'kamar', sebuah tenda yang bisa ditempati 4 orang. Di dalamnya tersedia bantal dan sleepingbag. Sayangnya tidak ada acara khusus yang dibuat untuk pengunjung yang menginap. Pelayanan dan pelayannya ramah, makanannya juga enak. Selain makanan utama, kita juga dikasih cemilan dan minum. Persis seperti hotel, pokoknya, ditambah pemandangan hijau sawah dan pegunungan tanpa pembatas tembok dan kaca jendela.
 
Add caption
sarapan
Perut kenyang dan tidur enak, disambut pemandangan alam begitu membuka resleting tenda, benar-benar cara yang indah untuk memulai hari. Belum lagi sarapan yang benar-benar memberikan tenaga untuk berarung jeram.

Sebelum mulai, kami diminta menuliskan biodata. Lalu diajak untuk mengambil perlengkapan: pelampung, helm, dan dayung. Setelah itu diangkut dengan truk kecil ke (sebut saja) garis start. Perjalanannya cukup seru karena berbelok-belok, menanjak dan menurun, melewati jalan berbatu. Barang berharga bisa dititipkan di locker atau kepada instrukturnya yang membawa drybox.

the equipments
Karena kami hanya bertiga, instrukturnya ada dua orang. Dalam kesempatan lain, bisa saja digabung dengan kelompok lain. Katanyanya satu perahu itu maksimal 5-6 orang. Tidak perlu khawatir, karena sebelum jalan akan dikasih pengarahan dan instruksi. Serulah pokoknya!

Di tengah arus yang tenang, kita diperbolehkan terjun untuk merasakan sejuknya sungai. Menariknya setiap jeram punya nama yang unik. Selain itu, kita kita bisa pilih mau paket yang berapa kilometer. Waktu itu kami ambil Paket A- sejauh 9km seharga Rp167.750.



Di tengah jalan, ada momentnya kita disuruh beraksi karena ada 'tukang foto'. Terkadang, instrukturnya iseng, melakukan manuver supaya kita basah sebasah-basahnya. Serunya, hari itu arusnya bagus dan tidak ada yang sampai terjatuh dari perahu. Sebenarnya lebih seru kalau banyakan, sehingga bisa lomba-lombaan atau perang-perangan dengan saling memercikan air. Ada tekniknya dengan menggunakan dayung.



Kita juga akan bertemu dengan pengunjung yang menggunkan operator lain selain Arus Liar. Hal ini wajar karena walaupun menggunakan sungai yang sama, di sekitarnya juga ada operator arung jeram yang berbeda-beda. Bahkan, menurut instruktur perahu kami, mereka bisa saling membantu sebagai instruktur.


Di pertengahan akan ada istirahat sebentar, kita diminta turun dan disediakan minum. Nanti, di (sebut saja) garis finish yang sesuai dengan paket yag kita ambil, kita disediakan kelapa muda. Di tempat ini biasanya ada juga penjual makanan. Dari sini kita diangkut lagi dengan mobil, kembali ke 'markas'.

tempat makan
Setelah bersih-bersih kami segera makan siang dan pulang... Tapi jangan lupa untuk pilih-pilih dan ambil foto-foto kita selama rafting, serta sertifikatnya.

Monday, July 15, 2013

I'm Full and Make It. Can I?

'...If you haven't found it yet, keep looking and don't settle...Stay Hungry, Stay Foolish.'
I love it, some lines of Mr. Steve Jobs's speech. 

It reflects me, somehow. 

I love being busy and challanged.
I have main and part time jobs, and still try to make money as much as I can. For what??? For my dream, traveling around the world. Yeah, It's the only one I knew to prove that I'm adventurous enough. Only traveling is able to make me excited about life. So, just money can make it. Why??? I need to buy tickets and accomodation. I knew there are many wonderful people out there who are delightful to open their place for traveler, but it's not easy, it takes time.

I (still) think I don't really enjoy my main job because it doesn't make me busy. I knew it sounds cheesy reason, but I don't have any perfect words to describe what I feel about. I stand still because I'm still paid even I don't do anything as long as I show up awhile. Just to respect my boss, I always try to prepare everything related to my tasks, and when he needs that I can provide it immediately. Right or wrong doesn't matter as long as it's there. I feel sorry sometimes, so my aim is to get out from here as soon as possible.

To be the right one, I should be the wrong one first. I have made mistake, and wanna keep making mistakes, then I know which the right is, so I will be able to inspire you, guys...:)

With all my expectations about life, I'm looking forward to the moment while I am saying "I'M FULL AND MAKE IT!"

Monday, June 3, 2013

Dream and Make It Happen

Practice with BFD at UPI
Seeing all parts of the world is one of my bucket lists...
I want to climb, I want to fly, and I want to dive...
I knew those all need a skill... and it can be learnt!

O.K. I have climbed even though it was not the summits, I just fly by a plane, and I always enjoy getting soaked in the sea because I can't swim. I know my limit, for sure.

Among all, I am extremely curious to see underwater. I just wanna see it, no matter its ways. Besides, having underwater photo is very happening todays...:D

Snorkeling for the first time was very addictive. It led me to join to BANDUNG FREEDIVING, part of INDONESIA FREEDIVER community.

Since last five months I have something to do on Sundays. I learn how to dive! It's called freediving, anyway. It's very simple, basically, you just need masker, fins and long deep breath. Forget that you can't swim. Even in practice, NEVER DIVE ALONE, you need a buddy!

I touched it and got numb for more than 2 weeks
Once I knew that I am able to be in water without life vest anymore, how EXCITING it was, yet I still need the fins ;), and the tube helps me to breathe and less panic.

Noticeably, to be a skilled diver and go to see the deep sea needs techniques and equipments, but having experiences to touch and see the corals closely has confirmed me that there's nothing wrong with keep dreaming because the time will help me to MAKE IT!

One thing, don't touch the corals! You never know how bad they hurt you. An experience gave me a lesson, they are the painful beauty.




Saturday, March 30, 2013

Hari Bumi 2012 di Oray Tapa

Earthcamp, sebenarnya sudah setahun berlalu, tapi baru kesampaian sekarang ditulis :(:). Camping bersama aktivis dan relawan Greenpeace Indonesia dan beberapa komunitas anak muda dalam rangka memperingati Hari Bumi, 22 April. 

Kita semua camping di daerah yang namanya Oray Tapa, di daerah Suka Miskin, Bandung Timur. Sesuai dengan acaranya yang dibuat dalam rangka Hari Bumi 2012, semua peserta diharapkan bersahabat dengan alam dengan tidak meninggalkan limbah plastik.

Semua makanan dimasak sendiri, dengan bahan-bahan dan alat masak yang sengaja dibawa. Besoknya kita disuruh belanja hasil bumi warga di sekitar dengan budget Rp20.000. Hasil belanja itu diolah sebagai menu makan siang kita sebelum acara bubar.

Acaranya 3 hari 2 malam, 20-22 April 2012, tapi karena dari Jakartanya telat, tiba di Oray Tapa jadi nya Sabtu dini hari, tanggal 21 April. Saya tahu acaranya ini dari wall di facebook. Nekad ikut walaupun tidak kenal satu pun orang di sana, demi mengisi weekend di Bandung.

Mhm... karena banyak lupa, let the pictures continue my story...

pemandangan dari mobil
warna-warni
(pas untuk bertiga)
roti maryam
(buat sarapan besok paginya)
mau tetap pipih atau diremas-remas dulu, yang penting topingnya
cara makan bagi yang gak bawa piring
copcolicopcolicopcopcop
shopping time...!!!
hasil bumi warga
(tinggal pilih dan bayar)
membatik dengan bahan alam
pesan untuk bumi
solar panel
(sumber energi, dari lampu hinga ngecas handphone)
dapur
packing and ready to go home...
ada 6 bis yang ngangkut peserta yang kebanyakan dari Jakarta
(dari sini masih harus jalan lagi menuju lokasi camping, untungnya kita diangkut pakai mobil, gak harus jalan :))

Saturday, May 19, 2012

Bandung Lautan Api 2012

Longweekend bulan Maret kemaren saya dan beberapa teman dari komunitas Couchsurfing Bandung berpartisipasi dalam kegiatan dalam rangka memperingati peristiwa Bandung Lautan Api. Dari kegiatan ini saya jadi tahu bahwa peristiwa itu terjadi pada 24 Maret 1946.

Jadi, dalam kegiatan itu semua peserta yang dibagi dalam grup yang terdiri dari 10 orang harus melakukan napak tilas dengan berjalan kaki ke tempat-tempat yang berhubungan dengan peristiwa tersebut. Tempat-tempat tersebut di tandai dengan semacam tugu kecil berbentuk limas segitiga yang disebut dengan istilah stilasi. Sisi pertama ada tanda bahwa bangunan itu adalah stilasi, sisi kedua ada peta lokasi kesepuluh stilasi, dan yang ketiga sponsor utama pembangunan stilasi pada zaman dulu, yaitu American Express.

Ada 10 stilasi, dan kami berjalan dari stilasi 10 di Tegalega sampai stilasi 1 di Dago. Sayangnya baru stilasi 10 saja yang diperbaiki oleh pemerintah Kota Bandung, sedangkan stilasi yang lain kondisinya sangat memprihatinkan dan banyak bagian yang hilang, serta masyarakat sekitar tampaknya tidak menyadari bahwa ada bangunan bersejarah di dekat mereka.

Buat saya yang bukan orang Bandung, ini adalah salah satu cara mempelajari sejarah secara tidak langsung. Sebelum berangkat ke stilasi pertama kita dikasih clue dalam 10 amplop tertutup yang harus kita tandai sesuai dengan nomor urutan stilasi. Nanti amplop-amplop itu di serahkan kepada petugas yang ada di tiap-tiap stilasi yang juga dijadikan check point. Kalau bukan berpatisipasi dalam kegiatan ini, rasa-rasanya entah kapan saya mau berjalan kaki dari Lapangan Tegalega sampai Monumen, lalu malamnya jalan kaki lagi ke Punclut buat berkemah.

Besok paginya kita, setelah sarapan, kita jalan kaki lagi sambil mungutin Raja Rama V (Raja Chulalonkorn) dan Raja Rama VII (Pradjathipok Pharaminthara) sampah ke Babakan Siliwangi melewati Curug Dago, sekalian penutupan acara dan pengumuman pemenang. Di Curug dago ada sebuah bangunan kecil seperti saung yang konon katanya peninggalan Raja Rama V (Raja Chulalonkorn) dan Raja Rama VII (Pradjathipok Pharaminthara) dari Thailand. Waktu itu tidak bisa ke sana karena jalan menuju ke tempat itu tidak ada, kalau pun mau mencoba sangat berbahaya.


Stilasi 10, di Tegalega

Stilasi 9 ada di depang gang kecil yang ada di sebelah kampus Universitas Pasundan. Tidak sempat diphoto karena tidak seperti yang lain, stilasi ini ada atas tembok.

Stilasi 8, di halaman sebuah SD
Bandingkan dengan sponsor yang sekarang, di mana mereka menempelkan lempengannya (lihat stilasi 1).

Stilasi 7, di sampingan lapangan voli sebuah komplek perumahan

Stilasi 6, di Jl. Dewi Sartika

Stilasi ini persis di trotoar di depan toko pakaian, dan di hari-hari biasa, oleh si penjual minuman dijadikan tempat menaruh barang dagangannya. 

Stilasi 5, di dalam sebuah Gang di Jl. Dewi Sartika

Stilasi 4, di dalam pagar sebuah show room motor yang ada di jalan di belakang McD King Shopping Center

Stilasi 3, di Jl. Asia Afrika, di halaman sebuah gedung di depan Masjid Raya Alun-Alun, Bandung

Stilasi 2, di Jl. Braga

Stilasi 1, di Jl. Ir. H. Djuanda, Dago, di taman trotoar depan Bank BTPN
Di setiap stilasi, ada panitia yang merupakan tempat kita menyerahkan amplop, lalu kita diberi stiker dan akan dicatat jam berapa kita tiba di sana dan berangkat dari sana. Selain itu, mereka juga ditemani oleh dua atau tiga orang veteran. Mereka kita salami dan ada beberapa yang bercerita tentang pengalamannya selama masa perang. Terharu sekaligus bangga.